Selasa, 15 November 2011

Curhat Edisi Khusus

Curhat Edisi Khusus
By : Ayano Rosie



Hujan mulai turun saat itu, saat tak sengaja aku mendapati sebuah nama yang mirip namamu di sebuah daftar tamu yang akan menghadiri sebuah mimbar sastra di salah satu universitas swasta di Makassar. Tapi saat itu aku tak pernah berpikir bahwa itu benar dirimu, karena yang aku ingat Agus tak menyukai sastra, ia hanya tertarik pada rumus-rumus matetika dan yang berkaitan dengan angka-angka. Masih jelas dalam memoriku saat Agus kesal jika ia mengajariku pelajaran ilmu pasti tapi aku malah asyik menulis kata-kata, atau mendapatiku membaca sebuah novel atau yang paling parah aku tertidur pulas.


“Ros, dari tadi aku menjelaskan, kok kamu malah sibuk nulis kata-kata jelek begini? Besokkan kita ulangan, kamu mau nilaimu terbakar lagi?”  tegurnya dengan nada dibuat buat jengkel, padahal ia tak pernah benar benar marah, lucu juga pikirku.

“sudah tahu aku ga bisa lihat angka-angka masih juga sibuk menjelaskan ini itu, gampang kok Agus dekat sama aku duduknya besok terus aku nyontek selesai perkara kan?”

“besok lusa jika aku pindah siapa yang mau ngajarin kamu? Ayolah Ros belajar, ilmu pasti itu tak serumit apa yang kamu pikirkan, anggap saja kamu lagi baca sebuah cerita kesukaanmu,   soal nulis dan membaca nanti saja”

Itu kali terakhir Agus mengajariku, karena seminggu sebelum raport dibagikan ia dan keluarganya pindah, dan sejak saat itu aku tak tahu alamatnya. Ia hilang ditelan bumi. 
***

Arif Agus, aku pernah menuliskan tentangmu beberapa waktu yang lalu, saat itu perjalananku kembali ke Makassar, dan sesaat sebelum kakiku meninggalkan Baraka kampung halaman kita, sebuah desa kecil di kabupaten Enrekang, aku tiba-tiba saja teringat padamu. Aku lupa kapan aku mulai mengingatmu, mengingat tingkah saat masih kecil bermanja dilaku kita. Yang aku ingat adalah saat itu kita masih sangat kecil, saat kau dan keluargamu meninggalkan kami sahabat sahabat nakalmu, aku masih ingat saat itu Lina, yang merupakan rifalmu dalam belajar dan prestasi menangis mendapati rumahmu kosong, aku juga menangis tapi airmata kusimpan erat di hatiku. Tak mau Lina, atau Rifai juga kawan kawan melihat aku jatuh dalam kesedihan kehilangan teman bermain.

Sejak kepergianmu, sangat lama aku mengurung diri dalam kamar, tak mau meninggalkan rumah, atau paling dekat di halaman rumahku, tempat kita selalu menghabiskan waktu. Dengan setia kau menemaniku bermain apa saja. Mengarajirku bermain kelereng, wayang, atau apa saja, entah apa yang membuatku teringat lagi padamu, saat ini sejak 20 tahun kita berpisah, senyummu kembali muncul dalam ingatanku.

Hujan masih saja turun mengiringi langkahku, menghadiri acara sastra itu. Bukan untuk mencari jejakmu, karena aku tak pernah mendapati diri mumenyukai sastra, tapi untuk memuaskan hatiku bahwa mungkin saja nama yang tertulis di sana memang namamu. Selain itu aku butuh pembuktian dari percakapanku dengan orang yang sama dengan namamu itu benar dirimu yang tak mengenaliku.

Aku penasaran, apa benar aku akan menemuimu, masihkah engkau seperti dulu, mengenaliku lewat bahasaku, ataukah hanya imajiku saja yang ingin melihatmu lagi. Hujan masih gerimis rupanya, namun kali ini pelangi melengkungkan warnanya di ujung langit. Aku gelisah duduk di pojok ruangan menikmati bait demi bait puisi melantunkan sajaknya, satu persatu peserta membacakan karyanya, dan akupun semakin gelisah adakah salah satu syair yang terbaca adalah pemiliknya dirimu?

Hingga akhir acara aku masih menunggumu menunaikan janji pertemuan padaku, namun bayanganmu juga tak hadir, bukan hanya aku yang menunggumu namun yang empunya acara juga harus mengurut dada karena ketidakhadiranmu yang tak member kabar sebelummnya. Aku bisa apa saat itu, yang ada hanya rasa kecewa bukan padamu tapi terlebih karena imajiku yang akhir akhir ini memaksaku mengingat kembali Agus teman masa kecilku yang tak tahu kemana rimbanya.

Sejak saat itu, aku benar benar telah membuang harapan dihatiku untuk mengetahui kabarmu, aku dan juga kawan kawan benar-benar telah berlepas hati mengenangmu, kami hanya mampu berdoa agar segala yang baik menyertai perjalannmu. Lina pernah bertanya padaku tentang dirimu, juga Rifai yang selalu terpingkal-pingkal jika kami kebetulan berkumpul mengenang masa masa I ndah kenakalan masa kanak-kanak.

“Agus, bagaimana ya kabarnya? Apakah ia masih menebar kata-kata indah pada gadis-gadis?” ucap Lina suatu ketika.

“Lin, kamu masih menyimpan cinta monyetmu padanya ya? Kamukan sudah menikah dan mempunyai dua orang putri?” Jawab Rifai yang saat itu masih menyimpan cemburu pada Agus karena cinta monyetnya pada Lina saat SMP didahului oleh Agus sahabat karibnya. Tapi sekarang ia tak perlu lagi bersaing dengan Agus, toh Lina sudah menjadi istrinya.

Melihat dan mendengar celoteh teman teman tentang Agus hanya membuatku senyum senyum sndiri. Jika Rifai dan Lina mengenang Agus dengan cinta monyet mereka lain lagi dengan Umi dan Ramli, Andika dan Ani. Jika kami berkumpul yang ia bicarakan adalah kemampuan Agus dalam mengolah angka-angka dan rumus rumus aljabar menjadi rangkaian kepastian sebuah langkah. Atau kemapuan dia mengolah sebuah kata menjadi syair yang indah, dan aku baru tahu kalau ternyata ia ada bakat menjadi seorang penyair. Itu diucapkan Ani setahun yang lalu saat kami reunian selepas Idul Fitri.

“Agus, selain pandai mengaji ia juga handal dalam mengolah kata-kata menjadi sebuah syair, aku masih ingat ia pernah membuatkan aku puisi untuk tugas Pak Sanusi guru bahasa Indonesia” ungkap Ani tanpa sengaja.

“iya, aku juga sering mendapati bukunya penuh dengan kata-kata pujangga” terang Ramli.

“eh, ada yang ingat Toni tidak? ia juga teman kita yang ikut orang tuanya ke Jawa kan?” ucapaku mengalihkan topik pembicaraan mereka,

“kabar terakhir dari Toni, ia sudah memiliki dua orang anak, kami masih saling kontak, ia menitipkan salam buat kalian semua” jawab Andika.

Buat teman-teman kenangan tentang Agus sangat banyak yang takkan habis diuraikan meski kami sudah berpuluh tahun tak bertemu. Rindu akan kebaikannya masih saja hangat di hati.

Sedang aku, apa yang mampu kuingat tentangmu? Cara bijakmu dalam menghadapi sebuah masalah, atau caramu mengajarkan aku tentang sebuah ilmu pasti atau hadirmu dalam tiap kesendirianku saat semua asyik bermain? Entahlah aku juga tak tahu apa yang mesti kuingat dari dirimu. Hanya sesal karena kau pergi tanpa memberikanku sebuah tanda yang hingga kini menyisakan lubang kosong di hatiku. Juga seribu tanya akan pernyataan Ramli dan Ani yang beranggapan bahwa Agus pandai menulis sebuah kata menjadi syair yang indah. Karena yang ia lakukan padaku saat aku asyik menulis kata-kata atau membaca buku cerita ia kesal. Atau marah karena aku selalu tampak bodoh di hadapanmu.

Sebelum senja benar-benar melangkahi jingga, aku berpamitan pulang pada sang Empunya acara, membawa kecewa dan kesal di hati. Aku hanya mampu menguraikan kecewaku melalui jejaring social, tapi sebelum sempat aku tuangkan kecewaku dalam bait-bait puisi, pesanmu sudah terlebih dahulu muncul di layar komputerku. Sebuah puisi dan kata sambutan yang berbunyi:

“puisi ini seharusnya aku bacakan di Acara mimbar sastra tadi sore, tapi karena tragedy yang membuatku tak dapat menunaikan janji pada sahabat-sahabatku”

Tanpa menyembunyikan rasa kecewaku, aku bertanya padamu mengapa tak datang sedang kau telah berjanji akan datang. Kau hanya menjawab itu sebuah tragedy. Apa dayaku saat itu, tragedimu juga telah mebekas kecewa di hatiku. Dan sejak saat itupula kau menghilang lagi dari pertemananku.

Aku mungkin harus banyak bersyukur atas rahmat lupa yang dianugerahkan Allah pada setiap makhluknya, karena dengan itulah akupun melupakanmu, namun sisa kecewa di hati bukan lupa obatnya, karena lupa hanya mampu bermain dalam otak manusia, sedang kecewa berada jauh di hati. Menghilangnya dirimu dari pertemananku saat itu membuatku juga lupa akan diri dan puisi-puisimu.

Aku hanya tak bisa menghapus jejak kecewa di hatiku, jika mengingat akan janji yang tak kau tunaikan waktu itu. Aku masih menyimpan erat kecewa itu hingga kini.



Strowbery Makassar, 20110917

Bonus mp3 Dawai Merindu



Yang penasaran ingin berteman Facebook Penulis Kerajaan Air Mata yaitu Ayano Rosie dan Arif Agus Bege'h disilahkan klik di masing masing nama, jangan lupa kirim pesan singkat dengan penutup Salam Blogger atau Salam Sastra, dan yang berkenan tukar link silahkan menuju postingan Exchane Link Otomatis.


Silahkan Baca juga Postingan berikut:

26 komentar:

Asis Sugianto : 15 November 2011 08.40 mengatakan...

ternyata curhat juga memiliki edisi khusus yang sob, kirain cuma barang aja yg punya edisi khusus,,, heheheh

Ayano Rosie : 15 November 2011 08.43 mengatakan...

Asis Sugianto=> sebenarnya tulisan curhat sudah sampai pada edisi 4 kok, tapi belum kami posting curhat edisi 1 sampai 4 itu, tunggu saja ya.

terimakasih sudah hadir

Rama88 : 15 November 2011 11.41 mengatakan...

hmmhmmm,, ada yg curhat nih,, xiixixiix,, wahh ada 4 edisi,, boleh juga tuh disimak edisi2 selanjutnya,, hehhe

Ayano Rosie : 15 November 2011 11.43 mengatakan...

Rama88=>ok, di tunggu saja ya...jangan sampai ketinggalan

r.a.c. cutting sticker : 15 November 2011 13.23 mengatakan...

wah ga nyangka om agus ternyata hobi matematika yah, heheh :)
keren curhatnya sob :) ditunggu curhat edisi selanjutnya :).

Ayano Rosie : 15 November 2011 14.06 mengatakan...

r.a.c. cutting sticker=>iya di tunggu saja ya jangan sampai ketinggalan

Farixsantips : 15 November 2011 14.54 mengatakan...

waahhh mas ayano rosie curhat :D mantap sambil dengar musik :D

Ayano Rosie : 15 November 2011 15.05 mengatakan...

Farixsantips=>ada yang salah ya dalam curhat ini, maklumi saja ya..namanya saja fiksi

anisayu : 15 November 2011 17.51 mengatakan...

curhat yg indah... :)

Ras Brawijaya : 15 November 2011 19.34 mengatakan...

Kisah yang sangat menyentuh kalbu dari sebuah perjalanan persahabatan yang telah terentang waktu puluhan tahun, masa kanak-kanak memang memory yang tak bisa hilang begitu saja meski usia kita telah beranjak senja. Karena memory kanak-kanak masih sangat fresh, tak terpengaruhi berbagai kepentingan, ia merekam semua kejadian dengan sangat dalam, hingga kapanpun saat kerinduan itu muncul, tak ayal, kadang airmata begitu saja jatuh...

Salam untuk orang-orang tercinta, berbahagia sekali mengenal kalian, Ayano dan Arif Agus, meski jarak dan waktu antara kita belum sempat berjabat, tapi telah kurasakan sebuah persahabatan yang luar biasa!

Bisnis Online Blog : 15 November 2011 20.09 mengatakan...

Wah Memori dalam kenangan, Ternyata mas agus handal di matetika dan sekarang merangkap juga di sastra ya.Keren mas.Di tunggu edisi berikutnya ya.

Agar Konten Tampil Menawan Hati,

Aldio : 16 November 2011 02.01 mengatakan...

wah pinter matematika ni abang yg sati ini hhii
di tunggu ajah edisi selanjutnya :D

Asis Sugianto : 16 November 2011 06.40 mengatakan...

ok sobat saya tunggu untuk kelanjutan postingan curhat edisi khususnya.. sukses selalu sobat....

ayano rosie : 16 November 2011 08.07 mengatakan...

mas farixsantips keknya ada yang mesti di luruskan...
saya bukan mas tapi cewek...
bisa-bisa ganti..????

kwkwkwkkwkwwk

ayano rosie : 16 November 2011 08.10 mengatakan...

anisayu
trimakasih sahabat hati kami..
senyummu sangat menawan...

ayano rosie : 16 November 2011 08.36 mengatakan...

Ras Brawijaya =>
itulah sebuah kenangan..akan indah jika yang mengenangnya dipenuhi cinta yang tulus..

kami juga sangat senang mengenalmu dan Alenna...persahabatan yang kalian tawarkan kepada kami sangat indah..jarak bukanlah sebuah belenggu untuk mengikat tali silaturrahmi..
trimaaksih sahabat..

ayano rosie : 16 November 2011 08.39 mengatakan...

Bisnis Online Blog =>

iya..kak agus itu tahu matematika...tapi kok malah lari ke jalus sastra..bikin aku jadi heran aja dari mana ia menyukai sastra?/
oke sahabat tungguin aja kelanjutannya yach..semua tentang Agus akan di bahas tuntas di edisi khusus ini...

ayano rosie : 16 November 2011 08.41 mengatakan...

Alido =>

hehehehe...tetap pantau yach curhatannya....
trimakasih sahabat..

ayano rosie : 16 November 2011 08.44 mengatakan...

Asis Sugianto =>

trimakasih sahabat hadir dan dukungannya..
oke..ditungguin ya..edisi berikutnya....

al kahfi : 16 November 2011 09.26 mengatakan...

btw,,tragedi apa tuh sobat yg membekas di hati,,

Vian : 16 November 2011 09.27 mengatakan...

ceritanya keren sob ditunggu cerita selanjutnya :)

ayano rosie : 16 November 2011 09.45 mengatakan...

al kahfi =>
tragedy????
itu akan ada di edisi selanjutnya...
tunggu saja yach

ayano rosie : 16 November 2011 09.49 mengatakan...

Vian =>
trimakasih sob...
tunggu saja edisi khususnya..kita lihat siapa dia sebenarnya

Outbound Malang : 16 November 2011 14.16 mengatakan...

berkunjung sob..salam kenal

blog alternatifs : 16 November 2011 16.07 mengatakan...

ok sob.. uda ane liat. uda cocok. w curhat

al kahfi : 24 November 2011 10.53 mengatakan...

emng bener adanya suatu kecintaan dan hobi akan sesuatu tdk bisa di paksakan dan di alihkan ke yg lain,, seperti yg ilmu matematika yg dimiliki agus


Silahkan Berkomentar

Silahkan berkomentar dengan bijak sesuai tema tulisan. Gunakan Name/URL untuk memudahkan saya merespon komentar Anda.

KOMENTAR

 

BLOG RANK

SESAMA BLOGGER